DEWI LEMBAH BANGKAI PDF

Setelah mempelajari materi berikut ini, kamu diharapkan mampu menceritakan peng- alaman yang mengesankan dengan kalimat yang runtut dan mudah dipahami. Lingkungan 21 1. Menceritakan Pengalaman yang Menarik Bacalah cerita pengalaman temanmu berikut ini! Pada hari minggu semua orang di kampungku bekerja bakti. Tua-muda, besar-kecil, laki-laki maupun perempuan bekerja membersihkan lingkungan. Aku, Rina, dan Budi bertugas mengumpulkan sampah ditempat yang telah disediakan.

Author:Kiramar Feshura
Country:Mozambique
Language:English (Spanish)
Genre:Automotive
Published (Last):12 January 2010
Pages:104
PDF File Size:8.85 Mb
ePub File Size:20.53 Mb
ISBN:752-4-31711-211-6
Downloads:45271
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Kazrale



Karena telah melakukan perjalanan dan jauh sehingga mereka merasa lelah sekali, lima orang punggawa itu menghadapi hidangan ini dengan penuh selera dan menganggapnya sebagai rejeki besar. Sang Panembahan Ciptaning lalu minta diri para tamunya untuk berkemas dan berpam it kepada orang dalam. Ia menuju ke Sanggar Pamujan, yaitu sebuah pondok kecil d i kanan rumah, tempat ia dan puteranya memuja Samadhi.

Panembahan yang sudah tua dengan jenggot dan rambut yang telah memutih itu lalu mencuci kaki dan tangan k emudian masuk kedalam pondok kecil. Ia hendak menyampaikan puji kepada Yang Maha Tunggal dan mohon berkah kekuatan untuk menghadapi peristiwa yang akan dialamin ya.

Tidak lama kemudian, dari luar tampak seorang pemuda berlari-lari mendatangi. De ngan kerling mata tajam pemuda itu memandang lima orang punggawa yang masih dudu k makan minum di ruang depan, lalu tanpa memperdulikan mereka ia langsung lari k e dalam. Kelima orang punggawa itu memandangnya dengan penuh kagum. Tubuhnya y ang tak berbaju tampak tegap dengan kulit yang halus putih kekuningan, sepasang lengannya tampak kuat dan tangkas sedangkan wajahnya sangat tampan dan membayang kan keagungan wataknya.

Mata lebar dan bening bercahaya dilindungi bulu mata yang panjang melengkung ke atas,hidung kecil mancung dengan tulang lurus dan di sekeliling lubang hidung ti pis,bibirnya bagaikan gendawa dan berwarna merah sehat, sedangkan dagunya tajam berlekuk sedikit di tengah dengan tarikan kuat menandakan bahwa ia memiliki kema uan keras dan kuat serta iman yang teguh.

Sepasangt telinganya lebar dan bentukn ya indah,tanda akan sifatnya yang berbudi. Tetapi pada saat itu,pemuda ini tampa k mengerutkan kening seakan-akan ada sesuatu yang di khawatirkannya.

Astaga, elok benar anak muda itu! Celana wa rna hitam itu diselimuti kain tenun. Siapakah ksatria gagah ini? Barangkali murid panembahan Sementara itu, teruna elok yang menjadi sasaran pandangan kelima orang ponggawa tadi, langsung melangkah kedalan dan dengan tindakan cepat menuju kesanggar pamu jaan. Ia menanggalkan gendawa yang tadi dikalungkan di bahu kanannya dan melepas kan kantung anak panah yang tergantung di punggung.

Dengan tergesa-gesa ia mencu ci kaki dan kedua tangannya, lalu menaiki tangga sanggar itu. Dilihatnya kakek p endeta tengah duduk bersila, mengheningkan cipta. Untuk sejenak pemuda itu meman dang kepala Panembahan Ciptaning dengan tak bergerak, matanya dibayangi kagum da n haru.

Memang kalau orang melihat pendeta tua itu sedang bersemadi, akan timbul rasa ka gum dan terhormat. Tubuh pendeta itu kurus kering tapi kulitnya tidak berkeriput , juga tidak pucat, bahkan wajah yang kurus itu bercahaya kemerahan. Dadanya yan g telanjang itu bergerak perlahan dan tetap ketika bernapas. Lengan kanannya memeluk pusar dan lengan kiri ditumpangkan diata s bahu kanan,Kedua kaki bersila tumpang dengan kedua telapak kaki terlentang dia tas paha.

Bibir tertutup rapat mengarah senyum, mata setengah terkatup dengan pa ndangan tertuju keujung hidung. Seakan-akan ada hawa panas menyinar keluar dari tubuhnya dan bernyala-nyala diatas kepalanya. Teruna itu lalu menyembah dan tiba-tiba Panembahan Ciptaning membuka matanya,sea kan-akan sembah pemuda itu menariknya kembali dari alam hening. Putraku Galing, kau sudah kembali?

Betul, Rama Panembahan,karena ada berita buruk disampaikan Paman Suto kepadaku. Kakek pendeta itu dengan tenang bertanya, Berita yang mana, anakku? Ketika sedang membidik seekor kijang dengan panahku, tiba-tiba Paman Suto datang dan berteriak memanggil hingga kijang itu terkejut dan lari ke dalam semak-semak belukar. Kemudian Paman Suto membertahukan bahwa Rama Bagawan didatangi ponggaw a dari kadipaten dan bahwa Rama dipanggil menghadap betulkah!

Betulkah itu, Rama? Begawan Ciptaning mengangguk sambil tersenyum ramah. Ahh, anak muda yang berdarah panas. Memang berita itu benar,tapi apakah itu dapat disebut berita buruk? Selayaknya seorang pembesar seperti Gusti Adipati Gendros akti yang menguasai seluruh daerah Wanagading ini memanggil seorang warga kadipa ten yang mana saja untuk menghadap. Tapi, Rama, bayangan yang kulihat dalam mimpi semalam itu Sang Bagawan menarik napas panjang dan suaranya terdengar sungguh-sungguh ketika ia berkata, Puteraku yang baik, memang Yang Maha Pengasih selalu memberi alamat dan tanda kep ada sekalian hambaNya, tapi hanya mereka yang waspada saja yang dapat menangkap dan mengerti akan alamat itu.

Engkau tentu maklum, anakku, bahwa Yang maha Tungg al itu berkuasa mutlak, kuasa memberi dan mengambil, kuasa membangun dan meruntu hkan. Kita sebagai manusia hanya tinggal menjalani saja, kewajiban kita memilih, ialah jalan yang terbaik. Hilangkanlah keraguan dan kecemasan hatimu, kierena i tu hanya akan menyeretmu kedalam jurang kelemahan batin dan mengurangi ketabahan dan kekuatanmu. Jaka Galing menyembah hormat.

Maaf, Rama Bagawan. Memang tadi hati hamba diliputi kekhawatiran besar terdorong oleh napsu hati. Tapi setelah mendengar wejangan R ama, hatiku menjadi tenteram kembali, sungguhpun terus terang saja hatiku takkan merasa enak melepas rama pergi menghadap sang Adipati. Dalam mimpiku semalam, k ulihat Rama berpakaian putih dan bersayap terbang keangkasa raya, inipun bukan a lamat yang baik. Pula, hamba mendengar kabar angin bahwa sang Adipati sedang bel a sungkawa, entah apa yang disusahkannya.

Kini Bagawan Ciptaning kembali tersenyum. Anakku, tak perlu kita sembunyikan lagi. Memang kita telah mengetahui bahwa mimpi macam itu biasanya berarti kematian. Tapi apakah kau masih menganggap bahwa kem atian adalah hal yang buruk dan perlu disusahkan? Kau tentu tahu bahwa mati pada hakekatnya hanya memenuhi kewajiban, tunduk kepada hukum alam yang tak kuasa ki ta elakkan, sama halnya dengan kelahiran. Manusa mana yang dapat mengelakkan kel ahiran sendiri?

Demikian pula diapun takkan dapat menghindarkan kematian, sesuat u hal lumrah yang akan dialami oleh setiap mahkluk di dunia ini. Pada saat itu terdengar suara panggilan di luar sanggar pemujaan.

Sang Bagawan! Harap suka keluar dan kita berangkat sekarang karena matahari telah naik tinggi! Baik, mas ponggawa, aku segera turun, jawab Panembahan Ciptaning. Kakek pendeta itu berdiri dan mengambil jubahnya yang panjang dari sangkutan lal u dikenakan di tubuhnya yang kurus.

Rama Bagawan! Jaka Galing memeluk kaki pendeta itu. Bagawan Ciptaning membungkuk dan membelai-belai rambut taruna itu. Galing, ingat. Tidak ada pertemuan abadi di dunia dan juga tidak ada perpisahan a badi. Kelak kita semua akhirnya akan menjadi satu juga. Bersikaplah kau sebagai sebagai ksatria dalam segala hal. Jangan menuruti nafsu hati yang liar tanpa ken dali.

Pergunakanlah akal budi dan hatui nuranimu, perhatikan selalu bisikkan sua ra jiwa murnimu. Rama, aku ikut, Rama. Biarkan aku melindungimu selama dalam perjalanan ke kadipat en. Jangan, angger. Gusti Adipati hanya memanggil ramamu, dan kau harus jaga disini m emimpin, pamong tani mengerjakan sawah. Hati-hati menjaga tanggul sawah, sekaran g musim hujan dan kau tanggul sampai pecah sungguh kasihan nasib kawan-kawan tan i kita. Sudahlah Galing, puteraku, ramamu pergi. Selamat jalan, Rama Bagawan.

Selamat tinggal, Yang Maha Tunggal akan selalu memberkatimu! Kakek pendeta itu lalu menuruni anak tangga diikuti oleh Jaka Galing. Pemuda ini merasakan adanya suatu bisikan didalam hatinya yang membuat ia tidak rela melih at ayahnya pergi.

Tapi ayahnya melarang ia ikut dan tak berani membantah kehenda k ayahnya. Panembahan Ciptaning lalu dipersilahkan naik tandu yang telah disediakan oleh pa ra ponggawa itu, tapi sambil tersenyum pendeta itu menolak. Ketika ketika ia dip ersilahkan menunggang kuda ia menolak pula. Melihat kesibukan para ponggawa itu, Jaka Galing bertindak maju dan berkata kepada mereka. Paman ponggawa sekalian tidak perlu sibuk dan bingung. Rama Panembahan tidak pern ah menyiksa orang dengan duduk di dalam tandu dan orang lain memikulnya, juga be liau tidak suka menunggang kuda.

Akan tetapi, tak perlu kalian khawatir. Larikan saja kudamu secepatnya ke kadipaten,rama takkan tertinggal oleh kalian! Mendengar ucapan itu para ponggawa saling pandang dan tertawa geli, karena merek a menyangka bahwa anak muda itu membual. Tapi, alangkah heran mereka ketika pend eta itu berkata dengan suara halus.

Mas ponggawa, naiklah kuda kalian. Biar aku berjalan kaki saja. Tapi kita akan terlambat dan Gusti Adipati akan marah kepada kami kalau kita data ng terlambat. Sedang dengan naik kuda saja, baru setelah matahari turun kita aka n sampai kesana, apalagi kalau jalan kaki, mungkin sampai besok kita belum tiba! Naiklah kuda kalian dan larikan secepatnya, aku akan pergi lebih dulu, kata pendet a itu.

Ketika lima orang ponggawa itu bertindak masih agak ragu-ragu dan banyak rewel. Jaka Galing lalu menggunakan telapak tangannya menepuk pangkal paha kelima kuda mereka. Kuda-kuda itu meloncat dan meringkik, lalu melompat ke depan dengan cepa t sekali tanpa dapat ditahan pula oleh penunggang-penunggangnya.

Jaka Galing ter tawa nyaring melihat mereka, dan Panembahan Ciptaning hanya tersenyum.

1547B DATASHEET PDF

SuperNova-Akar - Dewi Lestari.pdf

Mereka memiliki tampang-tampang galak, membekal golok besar di pinggang masing-masing. Begitu sampai di depan rumah papan beratap rumbia, kelimanya langsung melompat turun. Kami perajurit Kadipaten datang membawa surat perintah penangkapan! Perajurit yang menendang langsung masuk diikuti dua orang temannya. Dua lagi menunggu di luar berjaga-jaga dengan tangan menekan hulu golok. Aku dengar suara derap kaki-kaki kuda dikejauhan.

DAIKIN FAQ100C PDF

Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai

Dendam Orang Orang Sakti. Rahasia Cinta Tua Gila. Mawar Merah Menuntut Balas. Bulan Biru Di Mataram.

BIOSEPARATIONS BY SIVASANKAR FREE PDF

Jaka Galing Tamat

Karena telah melakukan perjalanan dan jauh sehingga mereka merasa lelah sekali, lima orang punggawa itu menghadapi hidangan ini dengan penuh selera dan menganggapnya sebagai rejeki besar. Sang Panembahan Ciptaning lalu minta diri para tamunya untuk berkemas dan berpam it kepada orang dalam. Ia menuju ke Sanggar Pamujan, yaitu sebuah pondok kecil d i kanan rumah, tempat ia dan puteranya memuja Samadhi. Panembahan yang sudah tua dengan jenggot dan rambut yang telah memutih itu lalu mencuci kaki dan tangan k emudian masuk kedalam pondok kecil. Ia hendak menyampaikan puji kepada Yang Maha Tunggal dan mohon berkah kekuatan untuk menghadapi peristiwa yang akan dialamin ya. Tidak lama kemudian, dari luar tampak seorang pemuda berlari-lari mendatangi.

Related Articles