HAMA SPODOPTERA LITURA PDF

Jenis : Spodoptera litura F. Pada waktu pagi hari petani melihat tanaman yang telah rusak, sedangkan hamanya sudah tidak ada, bersembunyi di dalam tanah. Ulat grayak termasuk dalam keluarga Noctuidae, yang berasal dari bahasa Latin noctua yang artinya burung hantu. Spodoptera litura F.

Author:Kigabei Tojalabar
Country:Peru
Language:English (Spanish)
Genre:Marketing
Published (Last):21 July 2004
Pages:206
PDF File Size:5.45 Mb
ePub File Size:20.76 Mb
ISBN:649-9-76537-462-3
Downloads:92221
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Felar



Hama ini tersebar luas di daerah dengan iklim panas dan lembap dari subtropis sampai daerah tropis. Ngengat Spodoptera terdiri dari banyak spesies, namun yang paling banyak menyerang tanaman di Indonesia adalah Spodoptera exigua dan Spodoptera litura. Ulat grayak dari spesies Spodoptera exigua berwarna coklat kehijauan dan Spodoptera litura larvanya berwarna coklat. Ulat grayak merupakan hama nokturnal yang aktif di malam hari dan pada siang hari bersembunyi di dalam tanah atau di balik daun.

Hama ini biasanya berkelompok dan serangannya bisa sangat hebat karena dalam waktu satu malam bisa menghabiskan tanaman, mulai dari daun, batang hingga buah. Sehubungan dengan itu hama ulat grayak perlu diwaspadai karena serangan hama tersebut dapat menurunkan produksi jagung dan mengakibatkan menurunnya produktivitas dan pendapatan petani dan bahkan gagal panen. Biologi Hama Hama ulat grayak termasuk jenis serangga yang mengalami metamorphosis sempurna yang terdiri dari empat stadia hidup yaitu telur, larva, pupa, dan imago.

Ulat grayak yang sering menyerang tanaman jagung adalah larva dari ngengat Spodoptera exigua L. Ngengat dari spesies ini memiliki sayap depan berwarna kelabu gelap dan sayap belakang berwarna agak putih. Imago ulat dewasa betina biasanya meletakkan telur secara berkelompok pada ujung daun. Satu kelompok biasanya berkisar 50— butir. Seekor betina mampu menghasilkan telur rata-rata 1. Telur dilapisi bulu-bulu putih yang berasal dari sisik tubuh induknya. Telur berwarna putih, berbentuk bulat atau bulat telur lonjong berukuran 0,5 mm.

Telur menetas dalam waktu 3 hari. Larva Spodoptera exigua berukuran panjang 2,5 cm dengan warna yang bervariasi.

Ketika masih muda, larva berwarna hijau muda. Jika sudah tua berwarna hijau kecoklatan gelap dengan garis kekuningan-kuningan. Hama ini merupakan hewan nocturnal, aktif pada malam hari untuk mencari makanan dan perilaku kawin, sehingga tanaman akan habis dalam waktu yang singkat.

Pada waktu pagi hari petani melihat tanaman yang telah rusak. Selama siang hari mereka akan bersembunyi di balik daun dan di dalam tanah. Gejala Serangan Spodoptera litura hidup dalam kisaran inang yang luas dan bersifat polifagus.

Karena itu hama ini dapat menimbulkan kerusakan serius. Kerusakan yang ditimbulkan pada stadium larva berupa kerusakan pada daun tanaman inang sehingga daun menjadi berlubang-lubang.

Larva instar 1 dan 2 memakan seluruh permukaan daun, kecuali epidermis permukaan atas tulang daun. Larva instar makan seluruh bagian helai daun muda tetapi tidak makan tulang daun yang tua. Kerusakan dan kehilangan hasil akibat serangan ulat grayak ditentukan oleh jumlah populasi hama, fase perkembangan serangga, fase pertumbuhan tanaman, dan varietas tanaman.

Serangan pada varietas rentan menyebabkan kerugian yang cukup besar dan bahkan gagal panen. Faktor-Faktor Penyebab Meningkatnya Populasi Hama Serangan hama ulat grayak perlu diwaspadai, karena dapat menurunkan produktivitas tanaman yang tidak sedikit.

Berbagai pestisida kimia telah dicoba untuk pengendalian hama, sepertinya hama tersebut sudah kebal. Beberapa faktor penyebab meningkatnya populasi ulat grayak dan timbulnya sifat kebal terhadap pestisida kimia, antara lain; Penggunaan dosis pestisida tidak sesuai anjuran.

Penggunaan satu jenis bahan aktif secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama. Penggunaan pestisida dengan bahan aktif yang tidak sesuai dengan hama sasaran.

Waktu dan frekuensi penyemprotan pestisida yang tidak tepat. Strategi Pengendalian Pengendalian alami dengan mengurangi tindakan-tindakan yang dapat merugikan atau mematikan perkembangan musuh alami.

Penyemprotan dengan insektisida yang berlebihan, baik dosis maupun frekuensi aplikasinya, akan mengancam populasi musuh alami parasitoid dan predator. Pengendalian fisik dan mekanik untuk mengurangi populasi hama, dilakukan dengan mengambil kelompok telur, membunuh larva dan imago atau mencabut tanaman yang terserang dengan tingkat intensitas serangan tinggi. Selain itu dapat juga dilakukan dengan cara mengganggu aktivitas fisiologis hama, serta mengubah lingkungan fisik menjadi kurang sesuai bagi kehidupan dan perkembangan hama, seperti dengan cara menggenangi lahan pertanaman, terutama pada stadia vegetatif akhir dan pengisian buah untuk mematikan ulat grayak yang bersembunyi di dalam tanah pada siang hari Pengelolaan ekosistem melalui teknologi budidaya tanaman untuk mewujudkan tanaman sehat dan mendorong berfungsinya agensia pengendali hayati.

Beberapa teknologi budidaya tanaman yang dapat menekan populasi hama meliputi; penanaman varietas tahan, penggunaan benih sehat dan berdaya tumbuh baik, pergiliran tanaman untuk memutus siklus hidup hama, sanitasi lingkungan, penetapan waktu tanam dan penanaman secara serempak, penanaman tanaman perangkap atau penolak hama refugia.

Penggunaan agens hayati pengendalian biologis. Pengendalian biologis pada dasarnya adalah pemanfaatan dan penggunaan musuh alami untuk mengendalikan hama.

Ulat grayak memiliki berbagai jenis musuh alami antara lain kelompok patogen nuclear-polyhedrosis virus, Metarhizium anisopliae , parasitoid telur Telenomus spodopterae Dodd , parasitoid larva Apanteles spp , parasitoid pupa Brachimeria spp , dan predator larva Paederus fuscipes, Lycosa pseudoannulata, Selenopsis gemminata. Pestisida nabati untuk mengembalikan populasi hama pada asas keseimbangannya Serbuk biji mimba efektif mengendalikan hama ulat grayak.

Pestisida yang digunakan harus yang efektif dan telah diizinkan, seperti; regent, larvin, prevathon, curacron, Pegasus, raydent, metindo dll.

LUXE ANNA GODBERSEN PDF

WASPADAI ULAT GRAYAK PADA TANAMAN JAGUNG

Spesies: Spodoptera litura F. Morfologi Ulat Grayak Ulat garyak mempunyai titik hitam arah lateral pada setiap abdomen. Larva mudah berwarna kehijau-hijauan, instar pertam tubuh berwarna hijau kuning, panjang 2,,74 mm dan tubuh berbulu-bulu halus, kepala berwarna hitam dengan lebar 0,,3 mm. Instar kedua, tubuh berwarna hijau panjang 3,,0 mm, bulu tidak terlihat dan ruas abdomen pertama terdapat garus hitam meningkat pada bagian dorsal terdapat garis putih memanjang dari torak hingga ujung abdomen.

COMPLETE BUSINESS STATISTICS BY AMIR ACZEL JAYAVEL SOUNDERPANDIAN PDF

Pengendalian Ulat Grayak Pada Tanaman Jagung

Langkah pengelolaan Pengelolaan hama dapat dilaksanakan dengan efektif apabila mengenali dengan baik hama sasaran. Pengendalian secara hayati Musuh alami berperan penting untuk mengatur dan mempertahankan keberadaan hama di bawah ambang yang tidak merugikan. Gejala infeksi virus pada ulat stadia-3 dan 4 ditandai dengan warna putih kecoklatan pada bagian perutnya tubuh bagian bawah , sedangkan pada bagian punggung arah dorsal berwarna coklat susu kehitaman. Pengelolaan Terpadu Ulat Grayak Pendekatan Sistem Pengendalian Berkembangnya resistensi hama terhadap insektisida yang diikuti dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan dampak buruk penggunaan insektisida secara intensif, mendorong perlunya pengendalian hama secara terpadu dengan menekan penggunaan insektisida kimia dan mempertahankan keberlanjutan sistem usaha tani Carter PHT adalah suatu pendekatan atau cara pengendalian hama yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan ekosistem yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.

BRIGHTLY WOVEN ALEXANDRA BRACKEN PDF

Prodenia litura termasuk famili Noctuidae, Ordo Lepidoptera. Di luar negeri serangga ini dikenal dengan berbagai macam nama: Common cutworm, Tobacco cutworm, Cotton bowlworm, dan Armyworm. Armyworm mula-mula dialihbahasakan menjadi ulat tentara kemudian diubah menjadi ulat grayak. Ulat grayak bersifat polifag. Tanaman inang selain kedelai adalah kacang tanah, kacang hijau, tembakau, cabai, ubi jalar, buncis, kacang panjang, bayam, dan talas. Ulat grayak tersebar luas di Indonesia meliputi 22 propinsi dengan luas serangan rata-rata mencapai Oleh sebab itu frekuensi aplikasi insektisida perlu diperhitungkan agar secara ekologi dan ekonomi tindakan pengendalian tidak merugikan karena penggunaan insektisida kimia terjadwal dan berlebihan serta secara terus menerus dapat mematikan populasi musuh alami seperti parasitoid dan predator.

ACER ASPIRE 5935G SERVICE MANUAL PDF

Hama ini tersebar luas di daerah dengan iklim panas dan lembap dari subtropis sampai daerah tropis. Ngengat Spodoptera terdiri dari banyak spesies, namun yang paling banyak menyerang tanaman di Indonesia adalah Spodoptera exigua dan Spodoptera litura. Ulat grayak dari spesies Spodoptera exigua berwarna coklat kehijauan dan Spodoptera litura larvanya berwarna coklat. Ulat grayak merupakan hama nokturnal yang aktif di malam hari dan pada siang hari bersembunyi di dalam tanah atau di balik daun. Hama ini biasanya berkelompok dan serangannya bisa sangat hebat karena dalam waktu satu malam bisa menghabiskan tanaman, mulai dari daun, batang hingga buah.

Related Articles