KITAB TRIPITAKA PDF

SEJARAH TIPITAKA uraian Beberapa minggu setelah Sang Buddha wafat SM seorang Bhikkhu tua yang tidak disiplin bernama Subhaddha berkata : "Janganlah bersedih kawan-kawan, janganlah meratap, sekarang kita terbebas dari Pertapa Agung yang tidak akan lagi memberitahu kita apa yang sesuai untuk dilakukan dan apa yang tidak, yang membuat hidup kita menderita, tetapi sekarang kita dapat berbuat apa pun yang kita senangi dan tidak berbuat apa yang tidak kita senangi" Vinaya Pitaka II, Dengan bantuan Raja Ajatasattu dari Magadha, orang Arahat berkumpul di Gua Sattapanni dekat Rajagaha untuk mengumpulkan ajaran Sang Buddha yang telah dibabarkan selama ini dan menyusunnya secara sistematis. Pada mulanya Tipitaka Pali ini diwariskan secara lisan dari satu generasi ke genarasi berikutnya. Satu abad kemudian terdapat sekelompok Bhikkhu yang berniat hendak mengubah Vinaya. Sedangkan kelompok Bhikkhu yang ingin mengubah Vinaya menamakan diri Mahasanghika, yang kelak berkembang menjadi mazhab Mahayana.

Author:Golabar Shaktikasa
Country:Equatorial Guinea
Language:English (Spanish)
Genre:Software
Published (Last):25 November 2004
Pages:89
PDF File Size:1.1 Mb
ePub File Size:5.90 Mb
ISBN:996-1-15435-368-1
Downloads:69555
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Malrajas



Disusun Oleh Dede Ardi A. Kitab suci merupakan salah satu unsur penting di dalam sebuah agama. Karena dari kitab suci itulah kita dapat mengetahui banyak hal yang berkaitan dengan agama yang bersangkutan, seperti konsep ketuhanan, ajaran, ritual-ritual peribadatan, hukum dan peraturan, dan banyak lagi yang lainnya. Banyak ahli yang dapat mengetahui dan memahami sebuah agama secara mendalam hanya dengan mengkaji kitab sucinya.

Dari sini kita bisa melihat betapa pentingnya peran sebuah kitab suci dalam sebuah agama. Terlepas dari benar atau salahnya suatu hal yang terdapat di dalam sebuah kitab suci, kita tidak bisa memungkiri bahwa dari situlah sebenarnya agama terbentuk. Karena terkadang masing-masing agama tertentu memiliki penjelasan tertentu berkaitan dengan pengertian kitab suci tersebut. Hal ini menyebabkan pengertian kitab suci menurut agama yang satu berbeda dengan pengertian kitab suci menurut agama yang lain.

Sebagai contoh, kitab suci agama Buddha. Dalam agama Buddha hanya diajarkan bahwa semua yang terdapat dalam kitab suci mereka merupakan perkataan-perkataan dari sang Buddha Gautama yang berbentuk khotbah, keterangan, peraturan, syair, percakapan sang Buddha dengan siswanya, dan lain-lain.

Perkataan-perkataan yang dianggap suci ini kemudian dikumpulkan dan dijadikan kitab suci. Pembentukan kitab suci ini tidaklah singkat. Perkataan-perkataan tersebut tentu tidak langsung berbentuk tulisan.

Kemudian dilakukanlah pengumpulan-pengumpulan tradisi yang diteruskan secara lisan tadi, seperti khotbah-khotbah, kata-kata mutiara, syair, cerita-cerita, peraturan-peraturan, dan lain-lain. Memang ada beberapa poin utama yang seharusnya kita pahami mengenai kitab suci Tripitaka ini, seperti pengertiannya, sejarah penulisannya, kanonisasinya, serta penjelasan mengenai bagian-bagian dari Tripitaka itu sendiri.

Namun karena keterbatasan, makalah ini hanya akan membahas mengenai pembagian Tripitaka dan penjelasannya.

Dengan demikian, isi kitab tersebut semuanya tidak hanya berasal dari kata-kata sang Buddha sendiri melainkan juga kata-kata dan komentar-komentar dari para siswanya [2]. Benang adalah tali halus yang dipintal dari kapas atau sutera, yang gunanya untuk menjahit atau merangkai sesuatu. Sutra-sutra itu dikumpulkan dan disusun menjadi satu disebut Sutra Pitaka.

Sutra Pittaka sendiri berisi dharma dalam bahasa Pali: dhamma atau ajaran Buddha kepada muridnya [4]. Kitab Sutra Pitaka juga memuat uraian-uraian tentang cara hidup yang berguna bagi para bhikku atau biksu dan pengikut yang lain. Buku ini terdiri atas tiga bagian pannasa ; dua pannasa pertama terdiri atas 50 sutta dan pannasa terakhir terdiri atas 52 sutta; seluruhnya berjumlah sutta.

Sutta-sutta disusun menurut urutan bernomor, untuk memudahkan pengingatan. Buku ini dibagi menjadi lima vagga utama dan 56 bagian yang disebut Samyutta.

Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kitab ini memuat ucapan-ucapan Sang Buddha yang disabdakan pada berbagai kesempatan. Empat vagga pertama terdiri atas 54 prosa berirama, sedang vagga kelima terdiri atas enam belas sutta. Beberapa syair berisi riwayat hidup para Thera, sedang lainnya berisi pujian yang diucapkan oleh para Thera atas Pembebasan yang telah dicapai.

Kitab Sutra Pitaka ini juga tidak hanya memuat ucapan-ucapan Buddha Gautama saja melainkan ucapan para thera semasa hidupnya, dan juga riwayat hidup dari para bhikku dan bhikkuni. Kitab-kitab tersebut antara lain adalah kitab Dhammapada yang mengutarakan peristiwa yang terjadi dalam kehidupan Buddha dan cara yang diajarkannya untuk menyembuhkan penyakit yang terdapat dalam diri manusia.

Buku ini terdiri atas syair dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Selain Dhammapada juga ada kitab Udana yang berisi ucapan-ucapan Buddha yang disampaikan pada berbagai kesempatan, theragata yang merupakan kumpulan syair yang disusun oleh para thera semasa Buddha masih hidup.

Beberapa syair berisi riwayat hidup para thera, dan lainnya berisi pujian yang diucapkan para thera atas pembebasan yang telah mereka capai. Riwayat hidup Buddha yang terdahulu dan kehidupan dari 25 Buddha lainnya juga diceritakan dalam Sutranikaya ini, terutama kitab-kitab Jataka, Apadana, Buddhavamsa, dan Cariya Pitaka.

Vinaya Pitaka Winaya Pittaka berisi peraturan-peraturan untuk mengatur tata tertib sangha atau jemaat, kehidupan sehari-hari para biksu atau bhikku atau rahib, dan sebagainya [8]. Selain itu, kitab suci Vinaya Pitaka ini juga berisi peraturan-peraturan bagi para Bhikku dan Bhikkuni.

Bhikkhu-vibanga berisi peraturan yang mencakup delapan jenis pelanggaran, di antaranya terdapat empat pelanggaran yang menyebabkan dikeluarkannya seorang bhikkhu dari sangha dan tidak dapat menjadi bhikkhu lagi seumur hidup. Keempat pelanggaran itu adalah : berhubungan kelamin, mencuri, membunuh atau menganjurkan orang lain bunuh diri, dan membanggakan diri secara tidak benar tentang tingkat-tingkat kesucian atau kekuatan-kekuatan batin luar biasa yang dicapai.

Untuk ketujuh jenis pelanggaran yang lain ditetapkan hukuman dan pembersihan yang sesuai dengan berat ringannya pelanggaran yang bersangkutan. Bhikkhuni-vibanga berisi peraturan-peraturan yang serupa bagi para Bhikkhuni, hanya jumlahnya lebih banyak.

Kitab Mahavagga berisi peraturan-peraturan dan uraian tentang upacara penahbisan bhikkhu, upacara Uposatha pada saat bulan purnama dan bulan baru di mana dibacakan Patimokkha peraturan disiplin bagi para bhikkhu , peraturan tentang tempat tinggal selama musim hujan vassa , upacara pada akhir vassa pavarana , peraturan-peraturan mengenai jubah Kathina setiap tahun, peraturan-peraturan bagi bhikkhu yang sakit, peraturan tentang tidur, tentang bahan jubah, tata cara melaksanakan sanghakamma upacara sangha , dan tata cara dalam hal terjadi perpecahan.

Abbidharma Pitaka Abidharma atau abhidhamma adalah susunan ceramah dan perkembangan logika tentang dharma dari ajaran Hyang Buddha, membahas filsafat dan metafisika, juga sastra, memberikan definisi kata-kata Buddha Dharma, dan penjelasan terperinci mengenai filsafat dengan sistematis, memantapkan suatu metode mengenai latihan spiritual oleh para sesepuh dari aliran atau sekte pada waktu itu, kumpulan dari kitab Abidharma ini dinamakan Abidharma Pitaka [12].

Sehingga Abbidharma Pitaka berisi ajaran yang lebih mendalam mengenai hakikat dan tujuan hidup manusia, ilmu pengetahuan yang membawa pada kelepasan dan lain sebagainya [13]. Abbidharma Pitaka juga berisi uraian filsafat Buddha-dharma yang disusun secara analitis dan mencakup berbagai bidang seperti ilmu jiwa, sastra, logika, etika, dan metafisika.

Berbeda dengan kitab Sutra Pitaka dan Vinaya Pitaka yang menggunakan bahasa naratif, sederhana dan mudah dimengerti umum, gaya bahasa kitab Abbidharma Pitaka bersifat sangat teknis dan analitis [14]. Kitab ini terdiri atas tujuh buah buku pakarana , yaitu : 1.

Buku ini terbagi menjadi empat belas bagian. Namun, selain pengelompokan di atas, kitab-kitab agama Buddha juga dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu kitab-kitab Sutra dan kitab-kitab Sastra. Uraian-uraian tersebut biasanya disusun secara sistematis [15]. Menurut aliran Hinayana yang dianggap sebagai kitab-kitab Sutra ialah kitab-kitab yang dulu dikumpulkan pada Muktamar Buddhis pertama, sekitar tahun S.

Dan semua kitab yang muncul setelah itu tidak diakui keasliannya. Namun, berbeda dengan Hinayana, aliran Mahayana berpendapat bahwa kitab-kitab Sutra yang muncul setelah Muktamar pertama pun dipandang asli dan diyakini diucapkan oleh sang Buddha sendiri. Golongan pertama menganggap bahwa kitab Tripitaka yang dikumpulkan pada Pasamuan Agung yang pertama tahun S. Kitab-kitab tersebut antara lain adalah Karandavyriha, Sukhavatiyuha, Lalitavistara, Mahayanacradhautpada, Saddharmapundarika, Madyamika-sutra, Yogacara-bhumi-sastra, Milindapanha, dan lain-lain [16].

Pandangan itu memang tidak akan sama, namun demikianlah kitab suci sebagai unsur penting agama ditempatkan dalam agama.

Kitab suci Tripitaka milik agama Buddha ini tidak serumit seperti halnya kitab suci milik agama Hindu. Antropologi Agama. Hadiwijono, Harun. Agama Hindu dan Buddha. Romdhon, dkk. Agama-Agama di Dunia. Buddha Dharma Mahayana. Vinaya Pitaka.

EL APRENDIZ DE BRUJO PNL 2 PDF

Pengertian Kitab-Kitab Allah – Taurat, Zabur, Injil Dan Al-Quran

Disusun Oleh Dede Ardi A. Kitab suci merupakan salah satu unsur penting di dalam sebuah agama. Karena dari kitab suci itulah kita dapat mengetahui banyak hal yang berkaitan dengan agama yang bersangkutan, seperti konsep ketuhanan, ajaran, ritual-ritual peribadatan, hukum dan peraturan, dan banyak lagi yang lainnya. Banyak ahli yang dapat mengetahui dan memahami sebuah agama secara mendalam hanya dengan mengkaji kitab sucinya. Dari sini kita bisa melihat betapa pentingnya peran sebuah kitab suci dalam sebuah agama.

DORMIR SOAR AMAR MARINA PALMER PDF

For further reading

Tetapi Ananda, jangan engkau berpendapat begitu. II, Dharma dan Winaya tidak lain dari kitab suci agama Buddha, yang semula disampaikan secara lisan. Begitu mendengar Buddha meninggal dunia, seorang biku yang bernama Subhadda Tua berkata kepada teman-temannya agar jangan berduka, karena mereka terbebas dari orang yang mengekang, sehingga dapat berbuat sesuka hati. Lalu biku Mahakassapa mengajak para biku untuk membacakan Dharma dan Vinaya sebelum terdesak oleh apa yang bukan Dharma dan Bukan Vinaya Vin. Saya akan segera merealisasikan Parinibbana. Kalian harus bersungguh-sungguh.

ASTM D7359 PDF

KITAB TRIPITAKA PDF

Dengan bantuan Raja Ajatasattu dari Magadha , orang Arahat berkumpul di Gua Sattapanni dekat Rajagaha untuk mengumpulkan ajaran Sang Buddha yang telah dibabarkan selama ini dan menyusunnya secara sistematis. Pada mulanya Tipitaka Pali ini diwariskan secara lisan dari satu generasi ke genarasi berikutnya. Satu abad kemudian terdapat sekelompok Bhikkhu yang berniat hendak mengubah Vinaya. Sedangkan kelompok Bhikkhu yang ingin mengubah Vinaya menamakan diri Mahasanghika , yang kelak berkembang menjadi mazhab Mahayana. Kaisar ini memeluk Agama Buddha dan dengan pengaruhnya banyak membantu penyebarkan Dhamma ke suluruh wilayah kerajaan. Pada masa itu, ribuan gadungan penyelundup ajaran gelap masuk ke dalam Sangha dangan maksud meyebarkan ajaran-ajaran mereka sendiri untuk meyesatkan umat. Untuk mengakhiri keadaan ini, Kaisar menyelenggarakan Pesamuan Agung dan membersihkan tubuh Sangha dari penyelundup-penyelundup serta merencanakan pengiriman para Duta Dhamma ke negeri-negeri lain.

Related Articles